Header Ads

Breaking News

Ironi Uang Kertas Dalam Sejarah…

Mungkin tidak sampai satu generasi kedepan, anak cucu kita akan mentertawakan uang kertas yang kita pakai saat ini. Inilah yang terjadi dengan uang-uang kertas di dunia dari waktu ke waktu, maka ini pula yang kemungkinan besar akan terjadi dengan uang kertas yang ada pada zaman ini.

Ambil contoh dari beberapa ilustrasi di tulisan ini; ketika Islam sudah sangat maju dengan aturan main system keuangan berbasis Emas (Dinar) dan Perak (Dirham) yang ternyata valid sejak 14 abad lalu dan up-to-date sampai sekarang; dari generasi ke generasi manusia yang tidak mau belajar dari sejarah tidak bosan-bosannya bereksperimen dengan uang kertasnya. Berikut beberapa contoh diantaranya.

Pada tahun 1777 ketika Amerika masih merupakan koloni Inggris dan berusaha mencetak uangnya sendiri, maka uang kertas yang dihasilkan adalah seperti gambar disamping. Saking nggak berharganya dan mudahnya di palsu, maka satu-satunya cara untuk menjaga nilainya dari pemalsuan hanya bisa dilakukan dengan menulis ancaman di uang tersebut – bahwa pemalsu akan dikukum mati.

Ketika Perang Dunia II usai ada salah satu Negara di Eropa - Hungaria yang betul-betul kebingunan menentukan nilai uangnya, maka dicetaklah uang dengan nilai Seratus Juta Milyar Pengo (Pengo = mata uang negeri itu). Di gambar di bawah Anda bisa lihat uang tersebut, tetapi karena saking banyaknya angka nol yang harus ditulis – yang akan menyulitkan penggunanya – maka angkanya di eja SZAZMILLIO B.-PENGO – artinya ya itu tadi Seratus Juta Milyar Pengo; bingung kan berapa angka nol-nya ?.

Uang kertas memang bersifat relatif dan identik dengan penguasa suatu negeri; maka apa jadinya kalau terjadi pergantian penguasa negeri tetapi penguasa yang baru belum punya ‘uang’ untuk mencetak uang yang baru ?; gampang, penggal saja kepala penguasa yang lama dalam gambar mata uangnya; maka sudah jadilah mata uang yang baru. Gambar paling bawah adalah mata uang baru versi Zaire (Sekarang Democratic Republic of the Congo), ketika pemerintahan baru menggantikan pemerintahan lama tahun 1997.

Well, mungkin Anda berpendapat bahwa hal-hal tersebut diatas tidak akan terjadi dengan uang kertas kita zaman ini ? jangan terlalu yakin dahulu. Banyak hal yang tidak kalah lucunya yang terjadi dengan uang kertas zaman ini – hanya kita mungkin akan telat untuk tertawa. Berikut diantara fakta-faktanya :

·
Uang Rupiah pernah secara revolusioner dibuang tiga angka nol-nya tahun 1965/1966; tetapi kemudian tiga angka nol yang dibuang tersebut telah balik kembali ke uang kita hanya dalam tempo tiga puluh dua tahun kemudian. Bahkan tiga angka nol ini berganti menjadi empat atau bahkan lima. Buktinya ?, di dompet kita lebih banyak uang yang ber-angka nol 4 atau 5, karena yang nol 3 sudah pindah ke kencleng-kencleng donasi.

· Dengan bahan yang sama, dengan karya creative yang tidak kalah indah-nya – uang kita hanya dinilai 1/10,000 dari uang negeri lain, negeri Paman Sam.

· Uang kertas yang paling banyak dipakai di dunia saat ini adalah justru uang dari negeri yang paling banyak hutangnya.

· Uang kertas dari salah satu negeri adhi kuasa telah menjadi candu bagi negara-negara lain yang menggunakannya; ketika negara-negara lain yang pinter dan sadar akan bahaya candu ini-pun mereka tidak mudah untuk menghentikan kecanduannya. Lihat tulisan saya tentang BRIC untuk ini.

Bayangkan kalau di Amerika tahun 1777 ada yang berpikir kedepan bahwa uang primitif mereka tidak akan survive; bayangkan kalau di Hungaria tahun 1946 ada yang mengingatkan kekonyolan pemerintahnya ketika mencetak uang kertas dengan nominal Seratus Juta Milyar Pengo yang daya belinya hanya 20 cent Dollar. Bayangkan pula kalau di negeri ini ada yang mengingatkan pemerintahan kita tahun 1965/1966 bahwa solusi sanering hanya efektif untuk sementara waktu.

Inilah yang coba kita sampaikan dan ingatkan, bukan karena kita tahu apa yang akan terjadi – karena hanya Allahlah pemilik ilmu masa depan itu – tetapi karena kehancuran uang kertas sudah terjadi berulang-ulang dalam sejarah, tidak ada yang menghalanginya untuk terulang kembali. Wa Allahu A’lam. [geraidinar.com]

Tidak ada komentar