sideCategory1

sideCategory2

feature content slider

Content left

Content right

Content left

Content right

Content left

Content right

Sabtu, 08 September 2012

Harga Emas : Waktunya Untuk Berselancar …?

ila mengikuti trend di data yang kami kumpulkan sejak lebih dari empat tahun lalu, bisa jadi hari-hari kedepan adalah waktunya untuk harga emas kembali bergejolak setelah ber-hibernate selama setahun terakhir. Hal yang sama terjadi awal 2010, setelah harga emas ber-hibernate sejak awal 2009. Pemicu utamanya-pun sama yaitu Quantitative Easing yang dilakukan oleh the Fed-nya Amerika.

Meskipun belum dipastikan jumlah dan waktunya, Quantitative Easing (QE) tahap III sudah diindikasikan oleh chairman-nya the Fed akhir pekan lalu. Dua QE terdahulu yaitu tahun 2008 dan 2010 memang terbukti sangat efektif mendongkrak harga emas dunia untuk melejit ke tingkat harga sekarang yang sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan masa-masa sebelum dunia mengenal QE.

Hanya saja ada satu faktor lagi yang dominan yang bisa mempengaruhi harga emas dunia yang kini ada – yang tidak ada pada tahun 2008 atau 2010, yaitu faktor krisis Eropa. Krisis Eropa yang meluas sejak setahun terakhir telah ‘menyamarkan’ permasalahan yang dihadapi di Amerika.

Kinerja ekonomi Amerika yang belum juga berkilau meskipun sudah dua kali dipacu dengan QE I dan QE II, tersembunyikan oleh menguatnya Dollar yang diburu orang yang meninggalkan Euro karena kekawatiran akan krisis yang melanda di wilayah itu.

Pekan ini European Central Bank (ECB) akan mengumumkan langkah-langkahnya untuk penyelamatan krisis di kawasan itu. Bila pasar merasa comfortable dengan upaya yang akan dilakukannya, maka Euro akan kembali menguat – Dollar akan nampak wajah aslinya dan emas akan mendapat satu lagi daya dorong untuk naik ke atas.

Sebaliknya, bila pasar tidak merasa langkah yang ditempuh ECB akan efektif – Euro akan tetap lemah dan orang akan tetap berburu Dollar. Dollar akan tetap relatif perkasa dibandingkan pesaing-pesaingnya, dampak dari QE III untuk sementara mungkin akan teredam dan harga emas bisa ber-hibernate dalam waktu yang lebih panjang.

Either way berspekulasi dengan fluktuasi harga emas dalam jangka pendek tetap tidak kita anjurkan, tetapi memproteksi hasil jerih payah Anda dari penurunan nilai yang tidak terhindarkan ketika mata uang dunia menyusut terus daya belinya – memang sebaiknya dilakukan dengan fokus jangka panjang. Wa Allahu A’lam.

Sabtu, 25 Februari 2012

Apa Kabar Harga Emas…?

Yunani - Krisis Yunani dan beberapa negara Eropa lain yang mirip, telah menyandera harga emas selama lebih dari enam bulan ini. Dalam posisi status quo – dunia akan tetap menunggu seperti yang terjadi selama ini. Bila dalam waktu dekat masalah Yunani ini bisa ada penyelesaian yang diterima pasar, maka Euro Zone akan ikut terakngkat – Euro naik, US Dollar turun dan emas juga naik.

Sebaliknya bila masalah Yunani ini memburuk, Euro akan terseret memburuk, pasar lari ke Dollar- Dollar naik dan emas akan turun. Ini adalah efek jangka pendeknya bila situasi Yunani memburuk tetapi tidak atau belum sampai dinyatakan secara resmi sebagai gagal bayar atau default.

Bila situasinya terus memburuk dan akhirnya Yunani harus dinyatakan default, maka seluruh system keuangan dunia akan terkena getahnya. Termasuk bank-bank besar dunia yang berpusat di Amerika Serikat. Pasar produk derivatives bank-bank di Amerika ini mencapai sekitar US$ 250 trilyun, menurut King World News sekitar US$ 30 trilyun-nya adalah berupa Credit Default Swaps (CDS) yang tentu mengalir jauh sampai Yunani juga.

Kerugian melalui CDS inilah yang kemudian harus diserap oleh bank-bank besar Amerika – yang karena magnitude –nya sangat besar, gempa financial yang ditimbulkannya juga akan sangat dasyat. ‘Gempa-gempa’ financial global skala kecil dan menengah yang sudah terjadi selama lima tahun terakhir, bisa jadi barulah symptoms atau gejala-gejala dari ‘gempa’ yang lebih besar dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Bila perbankan Amerika jatuh, US$ juga akan terseret jatuh dan harga emas akan kembali menjulang tinggi.

Maka inilah cara statistik memotret gejala-gejala di alam ataupun di pasar. Statistik memotret trend apa adanya – bukan opini saya atau opini Anda. Untuk jangka pendek misalnya – 6 bulan dan 1 tahun, bisa saja harga turun karena statistik 12 bulan terakkir memang menunjukkan kemungkinan ini. Namun untuk periode 2 – 3 tahun seluruh pendekatan statistik menunjukkan trend lonjakan yang sangat significant, karena memang itu pulalah yang dipotret gejala-gejalanya yang terjadi selama 2 – 3 tahun terakhir.

Iran

Krisis Iran bisa menjadi bola liar yang juga akan mengguncang ekonomi dunia bila tereskalasi tidak terkendali dalam waktu dekat. Dampak langsungnya sudah terasa pada harga minyak dunia yang sudah menyentuh US$ 105/barrel pagi ini - pada saat artikel ini saya tulis.

Krisis Iran ini bisa mempengaruhi harga emas dunia melalui dua jalur, yaitu pertama naiknya harga minyak dunia yang pada umumnya diiringi oleh naiknya harga emas. Dan kedua ketidak-pastian ekonomi dunia yang ditimbulkannya, setiap kali ketidak-pastian ini meningkat – pasar akan mencari tempat berpegang yang aman atau safe haven, dan emas-lah safe haven yang paling terbukti efektivitasnya.

China

China yang selama ini perkasa, mulai juga terkena dampak berlarutnya status quo krisis di negara-negara tujuan ekspornya. Dalam upaya mendorong ekonominya, baru-baru ini China menurunkan reserve requirement-nya yang diharapkan berdampak pada peningkatan daya saing ekonomi-nya.

Amerika yang merupakan mitra dagang utama China, pasti juga akan terpengaruh dengan kebijakan otoritas China ini. Dollar akan turun dan berarti harga emas dunia akan terdorong naik.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa mempengaruhi fluktuasi harga emas dunia kedepan, termasuk kondisi internal ekonomi Amerika dengan US$-nya. Tetapi tidak semua saya uraikan dampaknya di tulisan ini kawatir menjadi terlalu panjang untuk satu tulisan.

Dari sejumlah faktor tersebut, klik grafik diatas akan membantu menyederhanakan kurang lebih seperti apa harga emas kedepan. Tips-nya sederhana, jangan berspekulasi dengan harga emas dalam jangka pendek, tetapi amankan jerih payah Anda selama ini – khususnya dana yang Anda sisihkan untuk biaya sekolah anak-anak, dana pension, tunjangan hari tua, tabungan rumah, tabungan biaya kesehatan dan dana-dana lain yang peruntukannya jangka panjang. Wa Allahu A’lam. [Gerai Dinar]

Sabtu, 28 Januari 2012

Krisis Palsu Minyak dan Pangan

Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara
Pertanyaan kita adalah apakah penyebab dan akar krisis ekonomi dan pangan tersebut? Apakah kelangkaan (scarcity) dari sumber energi dan pangan, sebagaimana dikatakan oleh para pejabat? Ataukah inflasi sebagaimana dikatakan oleh para ekonom? Ataukah ada persoalan lain?

Salah satu faktor yang dituding sebagai penyebab krisis ekonomi dunia akhir-akhir ini adalah harga minyak mentah dunia. Dalam kurun enam bulan belakangan ini, menyusul krisis kredit perumahan di AS sejak September 2007, harga minyak terus-menerus naik. Sebelum memasuki kuartal terakhir 2007 lalu harga minyak hanya sekitar 70 dolar AS. Dalam waktu yang tak terlalu lama harga ini bergejolak dan, sesudah melewati angka psikologis 100 dolar AS/barel, terbukti tak kunjung reda, bahkan kini telah mencapai angka tertingginya, 115-an dolar AS.

Belum ada tanda-tanda gejolak ini akan berakhir, kita disodori oleh krisis baru yang lebih mengkhawatirkan, yakni krisis pangan. Media masa memberitakan mulai terjadinya kerusuhan di berbagai kota di dunia. Insiden orang kelaparan pun makin membayangi. Para pejabat di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) bahkan menyebutkan krisis pangan ini sebagai the silent tsunami yang melanda dunia.

Pertanyaan kita adalah apakah penyebab dan akar krisis ekonomi dan pangan tersebut? Apakah kelangkaan (scarcity) dari sumber energi dan pangan, sebagaimana dikatakan oleh para pejabat? Ataukah inflasi sebagaimana dikatakan oleh para ekonom? Ataukah ada persoalan lain?

Tulisan ini ingin membuktikan bahwa memang ada persoalan yang ditutup-tutupi, atau setidaknya dialihkan, hingga akar masalah yang sebenarnya tidak diketahui umum.



Komodifikasi dan Muslihat Uang Kertas
Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada komoditi itu sendiri, baik minyak atau pun pangan atau komoditi apa pun, melainkan pada manipulasi yang merusak tatanan alamiah. Krisis minyak atau pangan, atau komoditi apa pun, tidak pernah disebabkan oleh kelangkaan komoditi itu sendiri. Implikasinya, krisis komiditi tidak pernah bermula dari komoditi itu sendiri, melainkan bermula dari komodifikasinya dan alat transaksi yang digunakan sebagai penukar komoditi tersebut, yakni uang fiat (kertas) yang tidak memiliki nilai apa pun kecuali selembar kertas itu sendiri.

Pertama-tama kita pahami, pada dataran teknis, memang ada persoalan distribusi, tapi bukan produksi. Sumber daya alam (SDA) selalu melimpah, kalau tidak di semua daerah, di suatu daerah lainnya. Persoalannya, dalam era kapitalisme sekarang ini, sumber daya alam (SDA) sepenuhnya telah dikomodifikasikan, artinya dikuasai hanya oleh segelintir orang. Ketika telah dikomodifikasikan maka SDA tidak lagi diproduksi dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan semua orang, melainkan untuk memenuhi ketamakan segelintir orang yang menguasainya.

Lantas, kedua, ketika komoditi itu telah berada di tangan segelintir orang, maka fungsi asasinya sebagai alat pemenuhan kebutuhan hidup manusia tidak lagi dipedulikan, komoditi sepenuhnya menjadi sumber kekayaan. Inilah hal sebenarnya yang hari-hari ini sedang kita saksikan: kelangkaan energi dan pangan yang jadi persoalan mayoritas manusia, dijadikan sumber kekayaan-melimpah segelintir orang yang menguasainya di gudang-gudang mereka. Dengan kata lain, krisis minyak dan pangan, yang digembar-gemborkan media massa di seluruh dunia saat ini, adalah semu belaka.

Dan, ketiga, hal inilah yang seharusnya membuka mata kita semua, sebagaimana akan ditunjukkan di bawah nanti, sistem mata uang kertas sebagai pengganti komoditi, adalah instrumen penghisapan oleh segelintir orang. Sistem uang kertas adalah sistem rente, atau riba, yang sangat menindas, karenanya diharamkan dalam Islam. Alat tukar yang halal (karena keadilannya) haruslah sesama komoditi, dua yang terbaik di antaranya emas dan perak.



Dalam Dinar Harga Minyak Stabil
Harga minyak mentah (Indonesia) terus mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir, dari 37.58 dolar AS (2004) menjadi 53.4 dolar AS (2005), menjadi 64.29 dolar AS (2006), menjadi 72.36 dolar AS (2007), dan terakhir melonjak menjadi 95.62 dolar AS/barel (2008). Kenaikannya adalah 154% (dari 37.58 menjadi 95.62 dolar AS/barel). Kalau kita ambil harga minyak mentah dunia, pada tingkat yang tertinggi sekarang ini, taruhlah sekitar 115 dolar AS/barel, maka kenaikannya lebih tinggi, 206%. Secara flat kenaikan rata-rata harga minyak mentah Indonesia per tahunnya (dalam dolar AS) adalah 38.5%, sedang minyak dunia sebesar 50.1%.

Sementara itu, kurs dinar emas sendiri dari tahun ke tahun juga terus-menerus naik. Pada tahun 2004 satu dinar adalah 54 dolar AS, menjadi 60 dolar AS (2005), berikutnya (2006) menjadi 85 dolar AS, lalu 95 (2007), dan saat ini (2008) menjadi 127 dolar AS, sebelum kembali turun ke 117 dolar AS (Mei 2008). Jadi, dinar emas sendiri mengalami apresiasi cukup besar, meskipun lebih rendah dari kenaikan harga minyak mentah, yaitu 135% (dari 54 dolar AS menjadi 117 dolar AS/dinar). Rata-rata apresiasi dinar emas per tahun, dalam periode ini, adalah 29.16%, terpaut sekitar 9% dari rata-rata kenaikan harga minyak mentah (Indonesia) di atas.

Sekarang kita lihat harga minyak mentah, dalam periode yang sama, dalam dinar emas. Pada tahun 2004 harga minyak mentah Indonesia adalah 0.7 dinar emas/barel, yang sesudah mengalami kenaikan lumayan tinggi setahun kemudian (2005) yakni 28%, menjadi 0.9 dinar emas/barel, kembali turun 11% setahun kemudian (2006) menjadi 0.76 dinar emas/barel. Dalam kurun tiga tahun terakhir, ketika situasi sangat tidak stabil � yang selalu ditampilkan kepada kita sebagai �krisis� � harga minyak dalam dinar emas justru sangat stabil, tidak beranjak dari 0.76 dinar emas/barel. Dalam periode ini (2006-2008) harga minyak mentah dalam dolar AS naik secara drastis, sekitar 49%! (dari 64.29 ke 95.62 dolar AS/barel). Dalam dinar emas tidak berubah alias kenaikannya 0%!

Dengan cara ini kita melepaskan kaitan antara SDA dengan uang kertas (dolar AS). Kita kembalikan kaitan antara satu SDA (minyak) dan SDA lainnya (emas). Dengan jelas terbukti, antara keduanya, tidak terjadi pergeseran nilai tukar, inflasinya 0%. Kalau pun terjadi pergeseran, lebih karena faktor alamiah, kelangkaan atau kelebihan pasok, yang dalam waktu segera mengalami keseimbangan baru, sesuai dengan hukum supply-demand itu sendiri. Dengan adanya intervensi uang kertas, sebagai pengganti salah satu SDA yang dipertukarkan, dengan nilai nominal yang ditetapkan secara paksa oleh hukum negara, rusaklah hukum alamiah supply-demand ini. Segelintir orang, para pengganda uang kertas itu lah, yang meneguk keuntungan sepenuhnya dari rusaknya hukum alam tersebut. Maka, timbullah krisis palsu SDA seperti saat ini. Krisis yang sebenarnya adalah pada sistem mata uang kertas! [Wakala Nusantara]

Jumat, 11 Februari 2011

Dengan Dollar Mereka Membiayai Perang dan Menjajah...



Hari-hari ini kita miris melihat siaran televisi tentang kekacauan di negeri saudara kita Mesir. Kita mudah ber-emphaty terhadap apa yang terjadi di Mesir sekarang oleh sebab dua hal, pertama kita memiliki pengalaman traumatis yang sama yaitu ketika terjadi pergantian rezim di negeri ini tahun 1998. Kedua karena Mesir memiliki kemiripan dengan kita dalam arti mayoritas penduduknya Muslim. Namun yang membuat kita lebih miris lagi adalah bukan karena kekacuan fisik tersebut, tetapi kemerdekaan berpikir yang nampaknya sudah lama terampas dari rakyat negeri itu.

Rabu, 15 September 2010

Redenominasi dan Sanering Bagian Sistem Riba




Ilmu ekonomi ribawi menyebutkan bahwa redenominasi itu berbeda dengan sanering. Jika redenominasi itu adalah pemotongan angka uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilainya. Sedangkan sanering adalah pemotongan nilai uang menjadi lebih kecil dan mengubah nilainya.

Dalam redenominasi, rp 10.000 dipotong menjadi rp 10, dengan harga barang yang semula rp 10.000 juga berubah menjadi seharga rp 10. Fisik kertasnya tidak digunting sebagaimana yang dilakukan di program sanering.

Berbeda dengan sanering yang secara fisik kertasnya dipotong atau digunting. Dimana rp 10.000 dipotong menjadi rp 10, sehingga dengan demikian harga barang yang semula rp 10.000 belum tentu berubah menjadi seharga rp 10.

Jadi, katanya redenominasi hanya semacam penyederhanaan penulisannya saja yang tidak akan merugikan. Sedangkan sanering itu merugikan, lantaran berubah nilainya. Katanya program sanering itu dilakukan karena ekonomi negara itu sangat buruk yang mendekati ambruk karena hiper inflasi. Sedangkan program redenominasi itu dilakukan karena tujuan efisien penulisan dan pembukuan saja. Benarkah begitu ?